5.04.2009

Teori Perkuatan Dollard dan Miller

Teori Perkuatan Dollard dan Miller

Teori ini termasuk dalam aliran Behaviorisme moderat dan merupakan modifikasi serta penyederhanaan Teori Perkuatan Leonard Clark Hull yang dihasilkan oleh kerjasama dari John Dollard dan Neal Miller. Selain itu, teori ini juga bertolak dari Teori Psikoanalitis serta temuan-temuan dan generalisasi dari antropologi sosial. Maka tidak diragukan lagi teori ini bercorak klinis dan sosial. Dalam makalah ini, Teori Perkuatan Dollard dan Miller akan dibagi secara ringkas ke dalam lima sub pokok bahasan (mulai dari Eksperimen Laboratorium, Struktur Kepribadian, Dinamika Kepribadian, Perkembangan Kepribadian, serta sub bab Psikopatologi) dan kemudian akan disajikan studi kasus film “Detik Terakhir” menggunakan Teori Perkuatan Dollard dan Miller.

Eksperimen Laboratotium

Teori Perkuatan Dollard dan Miller dihasilkan dari eksperimen laboratorium dengan menggunakan tikus. Dalam eksperimen, seekor tikus laboratorium dimasukkan dalam kotak persegi dengan lantai berjaringan kabel listrik dan sebuah sekat rendah yang memisahkan kotak tersebut menjadi dua. Sebuah bel listrik dipasang dan diatur sedemikian rupa sehingga pada saat percobaan berlangsung, bel listrik tersebut berbunyi bersamaan dengan dialirinya listrik yang terputus-putus melalui kabel listrik pada kotak tersebut. Tikus yang terkejut karena aliran listrik melakukan variasi respon, hingga akhirnya tikus melakukan respon melompati sekat rendah tersebut dan listrik berhenti mengalir serta bel berhenti berbunyi. Percobaan ini diulang terus dan didapatkan bahwa respon melompati sekat rendah sejak bel berbunyi dan listrik mengalir waktunya semakin lama semakin berkurang.

Pada percobaan berikutnya, tikus dimasukkan lagi ke dalam kotak dan bel dibunyikan tapi listrik tidak mengalir. Bel ini terus berbunyi dan baru berhenti ketika tikus melompati sekat rendah di tengah kotak. Akhirnya, tikus ini melakukan respon melompati sekat rendah dan berpindah ke ruang lain di kotak tersebut ketika hanya bel saja yang dibunyikan.

Sesi percobaan berikutnya pun dilakukan oleh Dollard dan Miller. Kali ini, sebuah pengungkit ditambahkan dalam kotak. Tikus lalu dimasukkan ke dalam kotak dan bel dibunyikan. Tikus tersebut melompati sekat rendah, namun bel listrik tidak berhenti berbunyi. Berbagai variasi respon pun dilakukan oleh tikus hingga akhirnya tikus menekan pengungkit dan bel berhenti berbunyi. Percobaan terus diulang dan tikus semakin lama semakin cepat melakukan respon menekan pengungkit segera setelah bel listrik dibunyikan.

Eksperimen ini secara keseluruhan menggabungkan antara pengkondisian klasikal dan pengkondisian operan. Ketika aliran listrik (stimulus tidak terkondisi/ST) dipasangkan dengan bunyi bel listrik (stimulus terkondisi/SK) dan tikus mengasosiasikan bunyi bel listrik dengan aliran listrik, maka pengkondisian klasikal telah terjadi. Kemudian ketika tikus berhasil melakukan respon (R) yang tepat untuk menghindari aliran listrik dan bunyi bel tersebut, yaitu dengan melompati sekat rendah, maka pengkondisian operan juga telah terjadi. Dan gabungan dari keduanya menyebabkan tikus akan melakukan respon melompati sekat rendah (R) ketika ia hanya mendengar bunyi bel listrik saja (SK) yang telah menggantikan fungsi aliran listrik (ST). Respon yang mendapat perkuatan saja (dalam hal ini terbebas dari rasa sakit akibat aliran listrik dan juga asosiasinya (bunyi bel listrik)) yang cenderung diulang. Hal ini bisa kita lihat dari perubahan respon melompati sekat rendah menjadi respon menekan pengungkit ketika respon melompati sekat rendah tidak lagi bisa dilakukan untuk mendapat perkuatan.

Satu hal lagi yang penting untuk diperhatikan dalam teori Dollard dan Miller dari percobaan ini adalah adanya sesuatu yang disebut respon internal (r) yang kemudian menjadi dorongan (drive/SD) sebagai isyarat (cue) untuk melakukan respon terbuka (R). Respon internal (r) ini berupa rasa takut akan rasa sakit yang timbul dari aliran listrik (rasa sakit ini sendiri adalah dorongan yang bersifat bawaan; contoh lainnya adalah rasa lapar, haus, dan seks.

Menurut Dollard dan Miller, asosiasi yang terjadi antara stimulus terkondisi (SK) dengan respon internal (r) inilah yang disebut kebiasaan (habit) dan membentuk serangkaian proses berikutnya sampai individu melakukan respon terbuka (R) yang mendapat perkuatan. Respon internal (r) ini bisa berupa rasa takut dan kecemasan dalam diri individu.

Dollard dan Miller mengemukakan bahwa tikus dalam percobaan pertama menggeneralisasikan stimulus, sehingga setiap kali bel berbunyi dengan variasi intensitas yang berbeda-beda sekali pun, tikus tetap merespon melompati sekat rendah. Namun tikus bisa juga melakukan diferensiasi stimulus, jika percobaan dilakukan dengan mengaliri listrik tepat hanya pada bunyi bel dengan intensitas tertentu, dan pada intensitas yang lain bel berbunyi tapi tidak ada aliran listrik; sehingga tikus hanya merespon pada stimulus yang spesifik.

Struktur Kepribadian

Dollard dan Miller kurang menaruh minat pada unsur-unsur struktural atau unsur-unsur yang relatif tidak berubah dalam kepribadian, tetapi berminat pada proses belajar dan perkembangan kepribadian. Kebiasaan adalah konsep struktural kunci dalam teori ini sebagaimana telah dijelaskan dalam eksperimen bahwa kebiasaan merupakan asosiasi antara stimulus (baik eksternal maupun internal) dan respon. Susunan dari kebiasaan yang telah dipelajari tersebut membentuk kepribadian.

Sejumlah kebiasaan melibatkan respon internal yang membangkitkan stimulus internal yang bersifat dorongan (drive). Dorongan itu sendiri merupakan stimulus yang cukup kuat untuk mengaktifkan perilaku. Dorongan terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

· Dorongan Primer (primary drives):

Adalah dorongan-dorongan yang berkaitan dengan kondisi fisik atau fisiologis, seperti lapar, haus, seks, dan sebagainya. Dorongan primer ini dianggap kurang penting oleh Dollard dan Miller dalam tingkah laku manusia karena fungsinya telah tergantikan oleh dorongan sekunder.

· Dorongan Sekunder (secondary drives):

Merupakan asosiasi pemuasan dari dorongan primer, seperti kecemasan, rasa takut, gelisah, dan sebagainya. Dorongan sekunder ini dibandingkan dengan dorongan primer dianggap memiliki peranan yang lebih penting dalam tingkah laku manusia karena lebih tampak secara nyata dan dipandang sebagai bagian-bagian kepribadian yang bersifat menetap.

Dinamika Kepribadian

Dollard dan Miller sangat eksplisit dalam mendefinisikan sifat motivasi. Mereka menguraikan secara rinci perkembangan dan perluasan motif-motif, tetapi mereka tidak membahas taksonomi dan klasifikasi motif. Mereka berfokus pada motif-motif tertentu, misalnya kecemasan, dan analisis motif dibuat untuk menjelaskan proses umum yang berlaku untuk semua motif. Pengaruh dorongan-dorongan pada manusia menjadi rumit karena munculnya sejumlah dorongan baru. Dorongan-dorongan yang baru merupakan hasil penurunan atau pemerolehan sama seperti dorongan yang dipelajari.

Selama proses pertumbuhan, tiap individu mengembangkan sejumlah besar dorongan sekunder yang bertugas membentuk tingkah laku. Dorongan-dorongan yang dipelajari ini diperoleh dari dorongan-dorongan primer, yang merupakan perluasan dorongan-dorongan tersebut, dan merupakan bentuk luar dimana tersembunyi fungsi-fungsi dorongan-dorongan bawaan yang mendasarinya. Stimulus dorongan sekunder umumnya telah menggantikan fungsi asli stimulus dorongan primer. Dorongan-dorongan yang diperoleh misalnya kecemasan, rasa malu, dan keinginan untuk menyenangkan orang lain, mendorong sebagian besar perbuatan manusia. Implikasi peranan dorongan-dorongan primer dalam banyak hal tidak dapat diamati lagi dalam situasi biasa pada seorang dewasa yang memasyarakat. Hanya dalam proses perkembangan, atau pada masa-masa kritis (gagal dalam penyesuaian diri menurut tuntutan kultural masyarakat), orang dapat mengamati dengan jelas bekerjanya dorongan-dorongan primer.

Perkembangan Kepribadian

Dollard dan Miller menganggap bahwa manusia pada saat lahir dan beberapa saat sesudahnya hanya memiliki sejumlah kapasitas tingkah laku yang terbatas, yaitu: pertama, sejumlah kecil respon khusus yang sebagian terbesar berupa respon terhadap satu atau segolongan stimulus spesifik; kedua, sejumlah hierarki respon bawaan, yakni kecenderungan-kecenderungan melakukan respon-respon tertentu dalam situasi stimulus-stimulus tertentu sebelum respon-respon tertentu lainnya; ketiga, memiliki seperangkat dorongan primer yang berupa stimulus-stimulus internal yang sangat kuat dan tahan lama, serta umumnya berhubungan erat dengan proses fisiologis.

Dalam perkembangannya, manusia mengalami proses belajar yang oleh Dollard dan Miller dikemukakan empat konsep penting di dalamnya, yaitu: dorongan, sebagaimana telah dijelaskan di awal; isyarat (cue), adalah suatu stimulus yang membimbing respon organisme dengan mengarahkan atau menentukan ketepatan sifat responnya (isyarat ini menentukan kapan organisme harus merespon, mana yang harus direspon, dan respon mana yang harus diberikan); respon, merupakan bagian yang sangat penting dalam proses belajar, sebagaimana dijelaskan oleh Dollard dan Miller bahwa sebelum suatu respon tertentu dapat dihubungkan dengan suatu isyarat tertentu maka respon harus terjadi dahulu, dan tahap yang menentukan dalam proses belajar adalah menentukan respon mana yang cocok; dan perkuatan (reinforcement).

Proses-proses belajar yang terjadi mendasari perolehan dorongan sekunder yang merupakan perluasan dari dorongan primer. Stimulus yang kuat dapat membangkitkan respon internal yang kuat, yang lalu menghasilkan stimulus internal yang lebih lanjut lagi. Stimulus internal lanjutan ini bertindak sebagai isyarat untuk membimbing atau mengontrol dorongan yang memaksa organisme bertindak sampai ia mendapat perkuatan atau suatu proses lain yag menghalanginya. Proses perkuatan membuat respon atau perilaku dapat berulang, sedangkan proses lain yang menghalangi dapat secara berangsur-angsur menghapus respon tersebut. Penghapusan respon tersebut dapat juga dilakukan dengan counterconditioning di mana respon kuat yang tidak sesuai disesuaikan pada isyarat yang sama, misalnya stimulus (isyarat) yang menghasilkan respon takut dipasangkan dengan makanan, sehingga lama-lama respon takut tersebut bisa menghilang.

Sebagaimana ahli-ahli psikoanalisis, Dollard dan Miller sepakat bahwa 6 tahun pertama kehidupan merupakan faktor penentu penting bagi tingkah laku orang dewasa. Dan konflik tak sadar bisa dipelajari pada masa ini yang akhirnya menimbulkan masalah-masalah emosional di kehidupan kemudian.

Psikopatologi

Tidak seorangpun manusia yang berfungsi dengan sedemikian efektif sehingga semua kecenderungannya harmonis dan terintegrasi dengan baik, tetapi juga dapat memunculkan masalah yang disebabkan karena adanya motif-motif atau kecenderungan-kecenderungan yang saling bertentangan yang disebut konflik. Tingkah laku konflik sendiri dijelaskan oleh Dollard dan Miller dengan lima asumsi dasar:

1. Asumsi yang menyatakan bahwa kecenderungan untuk mendekati suatu tujuan menjadi semakin kuat ketika individu menjadi semakin dekat dengan tujuan itu, yang disebut dengan perubahan tingkat mendekati (gradient of approach).

2. Asumsi yang menyatakan bahwa kecenderungan menjauhi suatu stimulus negatif menjadi semakin kuat ketika individu menjadi semakin dekat stimulus itu, yang disebut dengan perubahan tingkat menjauhi (gradient of avoidance).

3. Asumsi yang menyatakan bahwa perubahan tingkat menjauhi lebih tajam dibandingkan perubahan tingkat mendekati.

4. Asumsi yang menyatakan meningkatnya dorongan yang diasosiasikan dengan mendekat atau menjauh akan berakibat meningkatnya bobot perubahan tingkat pada umumnya.

5. Asumsi yang menyatakan bahwa jika ada dua respon yang bersaing maka yang lebih kuat yang akan muncul.

Berdasarkan asumsi tersebut, mereka dapat membuat prediksi bagaimana cara individu menghadapi berbagai tipe konflik:

· Approach-avoidance conflict (tipe konflik mendekat-menjauh)

· Approach-approach conflict (tipe konflik mendekat-mendekat)

· Avoidance-avoidance conflict (tipe konflik menjauh-menjauh)

Selain itu Dollard dan Miller juga mencurahkan sebagian besar teori mereka untuk menjelaskan kondisi-kondisi yang menyebabkan berkembangnya aneka neurosis. Inti setiap neurosis adalah konflik tak sadar yang kuat dan sumber-sumber konflik itu hampir selalu ditemukan dalam masa kanak-kanak individu. Menurut mereka, konflik-konflik neurotik diajarkan oleh orang tua dan dipelajari oleh anak. Karena konflik-konflik neurotik bersifat tidak sadar, maka individu tidak dapat mengarahkan kemampuan-kemampuannya untuk memecahkan masalah. Selama konflik-konflik tetap tidak disadari maka konflik-konflik tersebut tidak hanya akan terus bertahan tetapi juga akan menyebabkan berkembangannya reaksi-reaksi atau simptom-simptom yang lebih lanjut lagi yang berupa akibat-akibat dari kekacauan emosional atau berupa tingkah laku yang memungkinkan individu melarikan diri dari ketakutan-ketakutan dan kecemasan mereka untuk sementara waktu.

(disarikan dari: Hall, Calvin S. dan Gardner Lindzey (ed. Dr. A. Supratiknya). 1993. PSIKOLOGI KEPRIBADIAN 3: TEORI-TEORI SIFAT DAN BEHAVIORISTIK. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.)

Analisis Film “Detik Terakhir”

Dalam sub bab ini, kami akan mencoba menjelaskan tingkah laku neurosis yang dialami oleh tokoh utama, yaitu Regi (Cornelia Agatha). Regi, dalam film Detik Terakhir yang diilhami dari kisah nyata, mengalami beberapa tingkah laku neurosis yang menurut teori Dollard dan Miller disebabkan oleh konflik tak sadar dan belajar dari orang tua di masa kecil.

Tingkah laku neurosis ini antara lain: Regi yang ingin menjadi laki-laki; Regi yang menjadi lesbian; Regi yang terjerumus ke dalam dunia gelap (narkoba); dan melarikan diri dari kenyataan hidup yang harus dihadapi. Dan berikut adalah analisis tingkah laku neurosis Regi dengan menggunakan Teori Dollard dan Miller:

· Regi ingin menjadi laki-laki:

Sejak dari kecil hanya ayahnyalah yang merupakan sosok laki-laki dalam kehidupan Regi. Dia melihat bahwa ayahnya merupakan sosok laki-laki yang kejam dan selalu bersikap kasar pada ibunya. Dan menurut Regi ibunya hanya diam saja, sehingga membuat Regi merasa kecewa. Hal itu membuat Regi ingin menjadi laki-laki, itu ditunjukkan pada saat kedua orangtuanya akan berangkat ke Singapura dimana Regi berkata dalam hatinya “...kalo aja gue cowok”. Keinginan Regi untuk menjadi seorang laki-laki juga ditunjukkan dalam beberapa tingkah laku:

- Regi mencoba menyembunyikan payudaranya dengan cara mengikatkan stagen di bagian dadanya

- Cara berjalannya gagah dan terkesan tidak peduli dengan penampilannya

- Regi merasa kesepian karena tidak bisa bergabung dalam kelompok Zein yang notabene isinya laki-laki semua

Konflik tak sadar yang dialami pada Regi adalah tipe konflik approach-avoidance (tipe konflik mendekat-menjauh), yaitu perasaan disatu sisi ingin menerima diri sebagai perempuan (mendekat), tapi disisi lain ia tidak ingin menjadi perempuan yang lemah seperti ibunya (menjauh). Berdasarkan asumsi ketiga, perubahan tingkat menjauhi lebih tajam dibandingkan perubahan tingkat mendekati; dan dalam film ini perubahan tingkat menjauhi memang akhirnya lebih kuat sehingga menyebabkan Regi menerima perasaan tidak ingin menjadi perempuan dan memilih untuk menjadi laki-laki.

Menurut teori stimulus-respon, Regi mendapat perkuatan ketika ia bersikap menjadi seperti laki-laki. Ia lebih diterima di kalangan teman-temannya yang pria dan mendapatkan perasaan kuat (tidak lemah seperti ibunya) yang menyebabkan hal tersebut menjadi kepribadian Regi.

· Regi yang menjadi lesbian:

Pada bagian awal film ditunjukkan adegan Regi kecil dimandikan oleh pembantunya (Si Mbok). Hal ini menunjukkan kedekatan antara Regi dengan Si Mbok sedari kecil. Bahkan ketika Regi beranjak dewasa, pada saat adegan ayah dan ibunya bertengkar, Regi kemudian mencurahkan isi hatinya kepada Si Mbok. Regi merasakan kelekatan dengan Si Mbok yang notabene adalah perempuan. Regi merasa nyaman dengan kelekatannya terhadap perempuan. Hal ini juga didukung oleh kedekatan Regi dengan seorang sahabat perempuannya yang bernama Helena (Shanty). Dalam diri Regi, telah tercipta perasaan suka dengan perempuan.

Namun ada konflik yang dialami dalam diri Regi, yaitu approach-avoidance conflict (tipe konflik mendekat-menjauh). Hal ini ditunjukkan dalam adegan ketika Regi hampir berciuman dengan Helena (mendekat), tetapi dirinya lebih memilih untuk mundur (menjauh) karena merasa ada yang salah dengan dirinya. Tapi kemudian perasaan suka dengan perempuan itu akhirnya semakin kuat ketika Regi bertemu dengan Vela (Sausan) dan merasakan chemistry pada pandangan pertama. Hubungan Regi dan Vela pun berlanjut, hingga akhirnya Regi benar-benar menjadi seorang lesbian.

Menurut teori stimulus-respon, Regi mendapatkan perkuatan ketika ia menjadi seorang lesbian. Ia mendapatkan “kenikmatan” dari Vela, yang menyebabkan ia mengulangi perbuatan tersebut (menjadi kebiasaan dan menjadi bagian dari kepribadiannya).

· Regi yang terjerumus ke dalam dunia gelap (narkoba)

Regi merasa kesepian karena keadaan keluarganya yang tidak akur dan kurang mendapat perhatian dari kedua orangtunya yang selalu sibuk. Ditambah pula Regi bergaul dan dekat dengan teman-temannya yang sama-sama memiliki latar belakang keluarga broken home. Akibatnya Regi menjadi akrab dengan dunia malam, terbiasa merokok, minum minuman keras, dan clubbing. Sampai akhirnya salah satu teman laki-lakinya mengajaknya untuk mencoba menggunakan kokain. Awalnya Regi menolak, namun karena terus menerus dibujuk akhirnya Regi pun mencobanya. Dalam kasus ini Regi mengalami konflik yang disebut approach-avoidance, dimana terjadi konflik karena disatu sisi ia mengetahui narkoba akan merusak dirinya namun di sisi lain ia tidak ingin mengecewakan temannya.

Ketika Regi mengkonsumsi narkoba untuk pertama kalinya, ia merasakan suatu kenikmatan. Ia merasa “fly” dan bisa melupakan semua masalahnya. Perkuatan inilah yang menyebabkan perilaku ini berulang dan menjadi bagian dari kebiasaannya.

· Melarikan diri dari kenyataan hidup yang harus dihadapi

Klimaks dari kejadian ini ditunjukkan pada adegan terakhir dari film, dimana Regi memilih untuk melarikan diri dari panti rehabilitasi dan tidak kembali ke rumah untuk mencari kehidupan yang baru. Regi tidak mau menerima dan menghadapi kenyataan kehidupannya sekarang dengan keluarganya. Penolakan terhadap kenyataan inilah yang merupakan tingkah laku neurosis.

Dalam tingkah laku neurosis yang satu ini, Regi mengalami approach-avoidance conflict (tipe konflik mendekat-menjauh), ketika Regi berhadapan dengan pilihan untuk kembali ke rumah atau mencari kehidupan baru (penolakan terhadap kehidupan di rumah dengan keluarganya).

6 comments:

  1. saya sangat suka teorinya.Makasih ya...

    ReplyDelete
  2. terima kasih infonya.sangat membantu tugas saya.

    ReplyDelete
  3. sangat membantu.... thx y...

    ReplyDelete
  4. thanx BGT yaa...
    teori yg ditulis sangat membantuku..

    ReplyDelete
  5. makasih bgd ya....
    cara analisisnya keren,, jd inspirasi buat Q

    ReplyDelete